Rabu, 15 Juli 2015

,

5 Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran

Takbir Idul Fitri Yang Sesuai Tuntunan Sunnah


Bertakbir atau mengagungkan nama Allah adalah salah satu dari sekian banyak lafadz dzikir. Takbir yang saya maksud pada postingan ini adalah takbir yang biasa dibacakan pada hari raya , atau yang biasa disebut dengan takbiran, di dalamnya termasuk juga ada kalimat tahlil dan tahmid . Pada saat-saat menjelang hari raya, gema takbir berkumandang di seantero pelosok tanah air; di masjid-masjid, di televisi dan radio, takbir keliling jalanan dan di beberapa tempat lain dengan pengeras suara, dengan lafadz yang bervariasi, bahkan terkadang dengan iringan musik plus berjingkrak-jingkrak . Takbiran sudah menjadi budaya menjelang hari raya.
 
1. Dasar Hukum Takbiran

Membaca takbir di kedua hari raya itu hukumnya sunat, berdasarkan beberapa firman Allah dalam Al-Qur'an. Tentang takbir Idul Fitri Allah berfirman: 

                                                  ولتڪملوا ٱلعدة ولتڪبروا ٱلله على ما هدٮكم ولعلڪم تشكرون  

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah : 185).

Sedang tentang takbir Idul Adha, firman-Nya:

                                                                                       وٱذكروا ٱلله فى أيام معدودٲت

Dan berzikirlah [dengan menyebut] Allah dalam beberapa hari yang berbilang..(QS Al-Baqarah : 203).

2. Waktu Mulai dan Akhir Takbir

  • Jumhur ( mayoritas ) ulama berpendapat bahwa takbir pada hari raya Fitri adalah mulai pada waktu pergi shalat 'Id sampai dimulai khotbah . Menurut Hakim, hal ini merupakan sunnah yang umum tersiar di kalangan anggota-anggota hadits. Juga merupakan pendapat Malik, Ishak, Ahmad dan Abu Tsaur . Hal ini berdasarkan beberapa hadits: 

  1. Dari  Ibn Abi Syaibah yang meriwayatkan bahwa Nabi  saw.  keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir sampai tiba di lapangan. Dia tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 5621).
  2. Dari Nafi: "Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai ia tiba di lapangan. Dia tetap melanjutkan takbir sampai imam datang."(HR. Al Faryabi dalam  Ahkam al Idain).
  3. Dari Muhammad bin Ibrahim (seorang tabi'in), beliau mengatakan: "Dulu Abu Qotadah berangkat menuju lapangan pada hari raya kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan." ( Al Faryabi  dalam  Ahkam al Idain ).
  4. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa permulaannya adalah semenjak kelihatannya hilal pada malam hari raya Fitri itu samapai pagi hari waktu pergi ke tempat shalat, atau sampai imam pergi shalat.
3. Lafadz Takbir



Tidak ada riwayat lafadz takbir tertentu dari Nabi  saw . Hanya saja ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbir. Diantara riwayat tersebut adalah:

1. Takbir Ibn Mas'ud ra . Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:

                                                    الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله, والله أكبر, الله أكبر ولله الحمد

                                                  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله, الله أكبر ولله الحمد

Keterangan:
Lafadz: "Allahu Akbar" pada takbir Ibn Mas'ud dapat dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam  Al Mushannaf.

2. Takbir Ibn Abbas  r.a.

                         الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, ولله الحمد, الله أكبر وأجل الله أكبر, على ما هدانا Keterangan:

Takbir Ibn Abbas  radiriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani.

3. Takbir Salman Al Farisi  r.a. :

  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر كبيرا

Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi  ra  diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman .
4. Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran 
a. Takbir berjamaah di masjid atau di lapangan
Karena takbir yang sunnah itu dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dikomando. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik bahwa para sahabat ketika bersama nabi pada saat bertakbir, ada yang sedang membaca Allahu akbar, ada yang sedang membaca  laa ilaaha illa Allah , dan satu sama lain tidak saling menyalahkan ... ( Musnad Imam Syafi'i  909).

Riwayat ini menunjukkan bahwa takbirnya para sahabat tidak seragam. Karena mereka bertakbir sendiri-sendiri dan tidak berjamaah.

b. Takbir dengan menggunakan pengeras suara

Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam  seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang. Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak ada satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, ia melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.

Oleh karena itu, sebaiknya melakukan takbir hari raya tidak sebagaimana adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda.

c. Hanya bertakbir setiap selesai shalat berjamaah

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa takbiran itu ada dua. Ada yang terikat waktu dan ada yang sifatnya mutlak (tidak terikat waktu). Untuk takbiran yang mutlak sebaiknya tidak dilaksanakan setiap selesai shalat fardlu saja. Tetapi yang sunnah dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.   Ibnul Mulaqin mengatakan: "Takbiran setelah shalat wajib dan yang lainnya, untuk takbiran Idul Fitrimaka tidak dianjurkan untuk dilakukan setelah shalat, menurut pendapat yang lebih kuat." ( Al I ' lam bi Fawaid Umadatil Ahkam : 4/259). Amal yang disyariatkan ketika selesai shalat jamaah adalah berdzikir sebagaimana dzikir setelah shalat. Bukan melantunkan takbir. Waktu melantunkan takbir cukup longgar, bisa dilakukan kapanpun selama hari raya. Oleh karena itu, tidak selayaknya menyita waktu yang digunakan untuk berdzikir setelah shalat.

d. Tidak bertakbir ketika di tengah perjalanan menuju lapangan

Sebagaimana riwayat yang telah disebutkan di atas, bahwa takbir yang sunnah itu dilakukan ketika di perjalanan menuju tempat shalat hari raya. Namun sayang sunnah ini hampir hilang, mengingat banyaknya orang yang meninggalkannya.

e. Bertakbir dengan lafadz yang terlalu panjang

Sebagian pemimpin takbir sesekali melantunkan takbir dengan bacaan yang sangat panjang. Berikut lafadznya:

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده...

Takbiran dengan lafadz yang panjang di atas tidak ada dalilnya.  WAllahu a'lam

                      سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك                               "Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu. "

(jadipintardotcom)

Jumat, 10 Juli 2015

,

MASIHKAH ADA LAILATUL QADAR ?

MASIHKAH ADA LAILATUL QADAR ?

  Berikut ini, kami ketengahkan sebuah karya tulis perihal beberapa kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin berkaitan dengan Lailatul Qadar. Makalah yang ditulis oleh Syaikh Masyhur bin Hasan, kami terjemahkan dari Al-Ashalah, Edisi 3/15 Sya’ban 1413 H halaman 76-78. Semoga bermanfaat dan sebagai peringatan bagi kami serta segenap kaum muslimin.
 Kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa kaum muslimin dalam masalah puasa dan shalat tarawih sangat banyak; baik dalam masalah keyakinan, hukum atau perbuatan. Sebagian mengira, bahkan meyakini beberapa masalah yang bukan dari Islam, sebagai rukun Islam. Mereka mengambil sesuatu yang rendah (dalam urusan puasa dan lainnya), sebagai pengganti yang lebih baik, karena mengikuti orang-orang Yahudi. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang menyerupai mereka. Bahkan beliau menekankan serta menegaskan, agar (kaum Muslimin) menyelisihi mereka.

Diantara kesalahan ini, ada yang khusus berkaitan dengan lailatul qadar. Kesalahan ini kami bagi menjadi dua bagian.

Pertama : Salah Dalam Berpandangan Dan Berkeyakinan.

Diantaranya:
1. Keyakinan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu memiliki beberapa tanda yang dapat diraih oleh sebagian orang. Lalu orang-orang ini merangkai cerita-cerita khurafat dan khayal. Mereka mengaku melihat cahaya dari langit, atau mereka dibukakan pintu langit dan lain sebagainya.

Semoga Allah merahmati Ibnu Hajar, ketika beliau rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 4/266, bahwa hikmah disembunyikannya lailatul qadar, ialah agar timbul kesungguh-sungguhan dalam mencarinya. Berbeda jika malam qadar tersebut ditentukan, maka kesungguhansungguhan hanya sebatas pada malam tertentu itu.

Kemudian Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ath-Thabari rahimahullah, bahwa beliau rahimahullah memilih pendapat (yang menyatakan, pent.), semua tanda itu tidaklah harus terjadi. Dan diraihnya lailatul qadar itu tidak disyaratkan harus dengan melihat atau mendengar sesuatu.

Ath Thabari lalu mengatakan,”Dalam hal dirahasiakannya lailatul qadar, terdapat bukti kebohongan orang yang beranggapan, bahwa pada malam itu akan ada hal-hal yang dapat terlihat mata, apa yang tidak dapat terlihat pada seluruh malam yang lain. Jika pernyataan itu benar, tentu lailatul qadar itu akan tampak bagi setiap orang yang menghidupkan malam-malam selama setahun, utamanya malam-malam Ramadhan.”

2. Perkataan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat (sudah tidak ada lagi, pent). Al Mutawalli, seorang tokoh madzhab Syafi’i dalam kitab At Tatimmah telah menceritakan, bahwa pernyataan itu berasal dari kaum Rafidhah (Syi’ah). Sementara Al Fakihani dalam Syarhul Umdah telah menceritakan, bahwasanya berasal dari madzhab Hanafiyah.
Demikian ini merupakan gambaran rusak dan kesalahan buruk, yang dilandasi oleh pemahaman keliru terhadap sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada dua orang yang saling mengutuk pada lailatul qadar,

أِنَّّها رُفِعتْ
“Sesungguhnya lailatul qadar itu sudah terangkat”

Pendalilan (kesimpulan) ini terbantah dari dua segi.

a. Para ulama mengatakan, yang dimaksud dengan kata “terangkat”, yaitu terangkat dari hatiku, sehingga aku lupa waktu pastinya; karena sibuk dengan dua orang yang bertengkar ini.

Dikatakan juga (maksud kata terangkat, pent.), yaitu terangkat barakahnya pada tahun itu. Dan maksudnya, bukanlah lailatul qadar itu diangkat sama sekali. Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan Imam Abdur Razaq rahimahullah dalam Mushannaf-nya 4/252, dari Abdullah bin Yahnus, dia berkata,”Aku berkata kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,‘Mereka menyangka, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat’,” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang mengatakan hal itu telah berbuat bohong.”

b. Keumuman hadits yang mengandung dorongan untuk menghidupkan malam qadar dan penjelasan tentang keutamaannya.

Seperti hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dan lainnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَة القَدرِ أِعيمَا نًا واحتسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّّّمَ مِنْ ذَنْبهِ
“Barangsiapa yang shalat pada lailatul qadar karena iman dan karena mengharapkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah, bahwa lailatul qadar itu ada. Dan lailalatul qadar itu terlihat. Dapat dibuktikan oleh siapapun yang dikehendaki dari keturunan Adam, (pada) setiap tahun di bulan Ramadhan, sebagaimana telah jelas melalui hadits-hadits ini, dan melalui beritaberita dari orang shalih tentang lailatul qadar. Penglihatan orang-orang shalih tersebut tentang lailatul qadar tidak bisa dihitung.”

Saya (Syaikh Masyhur) mengatakan: Ya, kemungkinan diketahuinya lailatul qadar itu ada. Banyak tanda-tanda yang telah diberitahukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa lailatul qadar itu, adalah satu malam diantara malam-malam Ramadhan. Dan mungkin, demikian ini maksud perkataan Aisyah radhiyallahu a’nha pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّّهِ أَرَأَيْت أِنْ عَلِمْتُ أَيَّّ لَيْلةُ الْقَدْر مَا أَقُو لُ فِيهَا
“Aku Katakan,”Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui (adanya) malam itu (sebagai) lailatul qadar, apa yang kuucapkan pada malam itu?”

Dalam hadits ini -sebagaimana dikatakan Imam Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar 3/303 terdapat bukti, kemungkinan lailatul qadar dapat diketahui dan (juga bukti, pent.) tentang tetap adanya malam itu.”

Az Zurqani rahimahullah mengatakan dalam syarah Muwaththa’ 2/491, “Barangsiapa yang menyangka, bahwa makna –yang terdapat pada hadits di atas, (yaitu) lailatul qadar sudah diangkat- yakni sudah tidak ada lagi, maka dia keliru. Kalau seandainya benar seperti itu, tentulah kaum muslimin tidak diperintahkan untuk mencarinya. Hal ini dikuatkan oleh kelanjutan hadits,

عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكمْ
“Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) [1] menjadi lebih baik bagi kalian”.

Karena dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, menyebabkan orang tertuntut untuk melaksanakan qiyamul lail selama satu bulan penuh. Hal ini berbeda jika pengetahuan tentang waktunya dapat diketahui secara jelas”.
Kesimpulannya, lailatul qadar tetap ada sampai hari kiamat. Sekalipun penentuan tepatnya kejadian tersebut dirahasiakan, dalam arti, tetap tidak dapat menghilangkan kesamaran dan ketidakjelasan tentang waktunya.

Meskipun pendapat yang rajih (terkuat), bahwa lailatul qadar ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan dalil-dalil menguatkan, bahwasanya dia adalah malam duapuluh tujuh, akan tetapi memastikannya dengan cara yang yakin merupakan perkara sulit. Allahu a’lam.

Minggu, 05 Juli 2015

,

YUNANI BANGKRUT, TERTULIS DALAM ALQURAN ?

YUNANI BANGKRUT, TERTULIS DALAM ALQURAN ?

Kebesaran Bangsa Yunani, Yahudi, dan Masehi Hanyalah Mitos

 Banyak penulis tentang Barat menyatakan, bahwa kebesaran kebudayaan Barat adalah karena pengaruh Yunani dan Romawi. Dengan demikian, seolah dua bangsa itu mempunyai nilai besar dalam membentuk peradaban dunia Barat saat ini. Betulkah demikian?
Menurut Roger Garaudy, kebesaran bangsa Yunani hanyalah hanyalah cerita sejarah yang dibuat karena ketidakpahaman. Hal yang sama juga tentang keunggulan bangsa Yahudi.
“Mitos keistimewaan Yunani hanya dapat terjadi karena kebodohan yang disengaja atau penolakan terhadap asal-usul dan sejarah kota Athena pada zaman Pericles. Mitos keistimewaan bangsa Yahudi juga disuburkan oleh kebodohan yang disengaja serta penolakan yang sama, ” tegas Garuady. (Roger Garaudy, Promesses de ‘Islam, Paris: 1981).
Dalam Al-Qur’an memang Allah Swt menyebutkan, bahwa bangsa Israel- sebagai asal-usul bangsa Yahudi- telah dilebihkan atas segala umat (QS. 2: 47). Ayat ini tidak menunjukkan bahwa bangsa Yahudi menjadi bangsa yang lebih luhur dibanding bangsa lain selama-lamanya.. Mereka yang dipuji Allah punya keluhuran adalah bangsa Yahudi pada masa Nabi Musa ‘alaihi al-salam (as).
Bangsa Yahudi menjadi unggul ketika mereka taat dan mengikuti ajaran Nabi Musa setelah dikejar dan dintimidasi oleh Fir’aun. Tapi, setelah mereka membangkang dan melakukan penyimpangan (tahrif), mereka dikutuk Allah. “Jadilah kamu kera yang hina, ” demikian firman-Nya pada Al-Baqarah: 65.
Inilah afirmasi Allah yang paling tegas kepada para pengkaji sejarah dan peradaban, bahwa bangsa Yahudi pasca Nabi Musa menjadi banga yang terhina, dicaci, dimusuhi dan diusir karena sikap dan perbuatannya yang menolak kebenaran dan rasis. Bangsa ini pada masa Hitler juga menjadi sasaran empuk.
Mitos yang dibesar-besarkan juga terjadi pada agama Kristen (Masehi), agama yang dianut hampir di semua negara benua Eropa, kendati benua ini tidak pernah melahirkan agama besar. Agama ini bermula di Antokia, Turki (Asia), kemudia menyebar di Isdkandaria, Mesir (Afrika).

Garaudy mengungkapkan, agama Masehi mengambil bahan dan tradisi Yahudi dan Yunani, negara tetangga terdekat Turki- dari hubungannya bangsa Timur. Selain itu, agama ini juga dipengaruhi oleh biksu-biksu Budha yang dikirim oleh Ashoka, seorang Maharaja India dari Dinasti Maurya (261 SM) sebelum lahirnya Nabi Isa as.
”Keturunan para biksu itu terdapat masyarakat Essena, dan mereka itu mempunyai pandangan-pandangan dan perilaku tang sangat mirip dengan panadangan serta perilkau masyarakat Gua Qumran atau masyarakat Injil Thomas yang ditemukan di Mesir, ” papar Garaudy, intelektual Muslim asal Perancis, yang pernah jadi atheis.
Sangat wajar bila kemudian Islam mengkritik peradaban, moral, dan keyakinan Yahudi, Kristen, dan tentunya Barat. Sebab, dalam pandangan Islam, kedua agama yang turut melahirkan peradaban Barat selama ini salah dan telah diselewengkan oleh para penganutnya.
* * * * *
Kendati kritik dan kebenaran Islam disampaikan ribuan tahun yang lalu oleh Nabi Muhmmad dan para sahabatnya, lalu dilanjutkan generasi sesudahnya, tetap saja mereka tidak terima.
Seorang pentolan orientalis William Montogomerry Watt dalam bukunya “Islamic Fundamentalism and Modernity, menyatakan, ayat-ayat Al-Qur’an yang menuduh bangsa Yahudi melakukan perubahan kitab sucinya merupakan tuduhan paling serius. ”Namun tidak ada kejelas dan apakah yang dimaksud perubahan di sini adalah perubahan pada teks atau hanya pada makna, ” papar Watt.
Tapi, lanjut dia, ketidakpastian ini tetap tidak mengurangi kemanjuran dan kebenaran teori Al-Qur’an itu dalam menghadang Yahudi dan Kristen berdebat atau berdialog dengan umat Islam mengenai dasar Bibel.
Sungguh aneh dan tidak ilmiah bila di kemudian hari mereka tetap megaku sebagai agama yang benar. Karena mengetahui agama mereka salah, maka agar mendapat pengakuan kebenaran dari yang lain (Islam) merekapun menyebarkan paham semua agama benar (plularisme agama).
 Sejarah pernah punya cerita Peradaban Persia, Romawi, Yunani dan India dikenal sebagai empat peradaban terbesar beberapa ratus tahun silam. Setiap peradaban tersebut memiliki karakter dan keunggulannya masing-masing. Peradaban Persia dikenal memiliki beragam dinamika dan pertentangan antar agama. Peradaban Romawi sangat dikenal dengan kekuatan armada militer dan visi ambisi kolonialismenya. Akan halnya Yunani, peradaban ini tenggelam dalam lautan mitos-mitos khurafat yang sangat menyuburkan paham keagamaan monotheisme, selain memang peradaban ini sangat menonjol dari ilmu pengetahuan pemikiran dan filsafat. demikian pula dengan India, selain juga keterpurukan dalam beragama suatu hal yang biasa pada peradaban itu. Satu kesamaan yang dapat ditemui dari keempat perdaban besar ini adalah kebobrokan moral, kebejatan sosial, dan kesengsaraan umat seolah menjadi wajah suram dan pemandangan wajar dari keempat peradaban tersebut. Romawi dan Persia merupakan peradaban terkuat pada waktu itu.
Selanjutnya, mari tengok sebuah Jazirah yang letaknya hampir berada di antara keempat peradaban besar di atas, tepatnya jazirah ini diapit oleh 2 karakter peradaban besar, peradaban barat materialisme dan peradaban timur spiritualisme dan mitos-mitos khayalan. Penduduk jazirah ini amat terbelakang, baik dari segi pemikiran, sosial, budaya, moral, maupun intelektual. Mereka bodoh, tak bisa membaca, gemar berperang antar saudara, bahkan membunuh bagi mereka merupakan suatu ritual yang mereka yakini sebagai bentuk penyembahan kepada tuhan-tuhan buatan mereka sendiri. Maka wajarlah jazirah ini sedikit pun tak dilirik oleh peradaban Persia, Romawi, Yunani, maupun India sebagai sesuatu yang mengancam bagi eksistensi masing-masing peradaban mereka.

Namun siapa sangka keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan penduduk jazirah ini menjadi salah satu alasan kuat diturunkannya Rasul terakhir yang dijanjikan dalam kitab-kitab agamat terdahulu. Inilah jazirah arab...tempat kelahiran sekaligus tanah dakwah pertama Rasulullah SAW. Alasannya sederhana saja... hikmah diturunkannya nabi terakhir di jazirah yang sangat terbelakang ini tiada lain adalah ingin menunjukkan bahwa Muhammad dengan segenap tugas kerasulannya hadir bukan karena dibentuk, dibimbing dan dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan yang maju dari segi peradabannya, sehingga tidak ada alasan bagi pihak-pihak yang menentang risalah beliau untuk menyebar fitnah dan tuduhan bahwa ajaran Muhammad merupakan warisan dari kekayaan peradaban tempat kelahirannya, tidak pula mengatakan bahwa risalah Muhammad merupakan buah karya pemikiran intelektual para pendahulu di daerah asal kelahirannya...nyatanya tempat kelahiran Muhammad merupakan tempat yang jauh dari keluhuran budaya dan peradaban...jauh terpuruk dibanding keempat peradaban besar dunia yang dipaparkan di awal...sehingga suatu hal yang mustahil jika risalah tersebut diciptakan dari iklim kebudayaan dan sejarah intelektual jazirah arab yang demikian terbelakang. Fakta ini menjadi penguat bahwa Risalah yang dibawa Muhammad benar-benar datang dari langit berupa kalam-kalam Ilahiyah, Ma'alim Fiththoriq bagi umat manusia sepanjang zaman.

Dan perjuangan dakwah Rasulullah bersama para sahabatnya, kesabaran dalam menghadapi ujian, pengusiran, pembunuhan, dan pemboikotan, menghadapi ratusan ratusan peperangan, berbuah manis... perlahan namun pasti mayoritas masyarakat mekah berbaiat kepada beliau, ditandai dengan peristiwa Fathu Makkah. Madinah menjadi sebuah negeri madani, para kabilah hidup rukun dalam kepemimpinan Muhammad walau mereka berbeda suku dan keyakinan. Madinah menjadi pusat kekuatan besar umat Islam. Madinah dijadikan sebagai pusat pembinaan kader-kader dakwah, penguatan aqidah, penerapan sistem pemerintahan yang kuat, pembangunan ekonomi umat hingga penyiapan armada militer demi melakukan ekspansi yang lebih luas ke berbagai wilayah dengan menawarkan suatu paket perjanjian kepada para penguasa wilayah: Masuklah ke dalam Islam, jika tidak mau, maka bayarlah jizyah demi keamanan dan pelayanan, dan jika tidak mau juga, bersiaplah berperang hingga mereka menang atau kalah dan memilih salah satu dari dua tawaran tersebut. Sebuah kesepakatan yang fair dan bijaksana. Tak ada paksaan, tak ada pengusiran dan tak ada pembantaian.

Islam terus mengekspansi dakwahnya ke berbagai penjuru Jazirah arab hingga secara mengejutkan peradaban Persia pun jatuh dalam kekuasaan Islam. Persia yang dahulu sama sekali tidak memandang kekuatan Islam di jazirah arab...justru mereka takluk di tangan Islam. Inilah cita-cita penaklukan pertama dari dua cita-cita penaklukan yang dinyatakan Rasulullah saat memecah batu ketika perang Khandak sebagaimana dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah radhiyallahu ‘anhu dari salah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:

"Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk. Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat Yang mengutus anda membawa kebenaran. Betul, wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”

Demikianlah hadits di atas layaknya membenarkan janji Allah SWT dalam firmannya di surat Ar-Ruum ayat 2-5 berikut:

"Telah dikalahkan bangsa Rumawi[1], di negeri yang terdekat dg negeri syiria dan palestina[2] dan mereka ( rumawi ) sesudah dikalahkan itu akan menang[3] dalam beberapa tahun lagi[4]. menurut ilmu Allah-lah tata aturan hidup berlaku sebelum dan sesudah (mereka  saling menghancurkan). yaitulah momentum menjadi giliran peredaran sejarah tegaknya Islam  maka bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan ilmu Allah. Dia dg pembuktian Alquranu wa Sunnaturrasul menolong siapa yang berkehendak. yaitu dia dg Alquranu wa Sunnaturrasulu Maha agung lagi Pmaha pemasti kehidupan kasih sayang.

Sepeninggal Rasulullah SAW, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Hingga pada suatu masa di mana tiba saatnya merealisasikan cita-cita kedua Rasulullah di perang Khandak: Menaklukan Romawi, tepatnya Romawi Timur, yakni Konstantinopel, peradaban dengan angkatan militer terkuat di dunia! Dan tugas tersebut berhasil dituntaskan oleh pasukan perang yang dipimpin seorang pemuda 23 tahun yang paling hebat amalan ibadah nafilah yaumiyahnya, Muhammad Al-Fatih Murad, Sang Pembebas. Begitu hebatnya Muhammad Al-Fatih sampai-sampai Rasulullah ketika masa hidupnya menggambarkan sosok pemimpin pasukan perang yang kelak akan menaklukan Romawi dengan haditsnya:

"Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan." (H.R. Ahmad bin Hambal).

Kekuasaan Islam terus meluas terutama di zaman kekhilafahan. Penguasaan wilayahnya hingga lebih dari 1/3 belahan dunia menjadikan Islam tidak lagi sekedar sekedar negeri, tapi menjadi sebuah peradaban baru. Hingga akhirnya peradaban-peradaban besar dunia runtuh, dan Islam tampil menjadi peradaban terkuat hingga mencapai puncak keemasannya pada abad ke-8 hingga 13. Islam menjadi satu-satunya peradaban yang mampu bertahan paling lama hingga 500 tahun lebih. Pada puncak keemasan ini lahirlah ilmuwan-ilmuwan terbaik sepanjang sejarah, yang banyak menghasilkan penemuan, teori dan ilmu pengetahuan, pada masa ini pula ulama-ulama hebat yang banyak menuliskan berbagai kitab fiqih, pemikiran dan filsafat Islam.

Pada akhirnya peradaban Islam perlahan dan pasti mengalami masa-masa penurunan. Hingga pada tahun 1924 peradaban Islam pun runtuh ditandai dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniyah. Faktor penyebab runtuhnya kekhilafahan cukup kompleks dan rumit. Jika ditarik benang merahnya maka akan ditemukan hubungannya dengan sejarah konflik pemilihan khalifah pasca berakhirnya kepemimpinan Khula'aurrasyidin yang terakhir yakni 'Ali bin Abi Thalib. Sedemikian rumitnya hingga perlu bagian tersendiri dalam memaparkannya (Insya Allah akan disampaikan pada judul selanjutnya). Yang jelas runtuhnya khilafah Utsmaniyah tidak terjadi begitu saja secara tiba-tiba, tapi merupakan proses yang lama dan itu disebabkan oleh semakin lemahnya kekuatan internal umat Islam khususnya dari sisi pemerintahan ditambah dengan ekspansi musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kekhilafahan hingga melakukan penetrasi ke jantung pemerintahan dan berhasil mengangkat seorang yahudi menjadi khalifah sekaligus meruntuhkan sistem kekhilafahannya dari dalam.

Semenjak itu, upaya terus dilakukan oleh para ulama di dunia untuk kembali menegakkan khilafah, hingga muncul berbagai gerakan Islam sebagai sarana untuk mewujudkannya, namun hingga kini usaha tersebut belum berhasil karena sedemikian kompleksnya permasalahan umat Islam saat ini baik dari sudut internal maupun eksternal yang sangat memerlukan energi ekstra besar untuk menyelesaikannya...dan energi umat Islam saat ini belumlah cukup untuk menyelesaikannya. Demikianlah Allah mempergilirkan kekuasaannya bagi siapa yang ia kehendaki.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nuur: 55)

"Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu." (QS. Huud: 57)