Minggu, 05 Juli 2015

Filled Under: ,

YUNANI BANGKRUT, TERTULIS DALAM ALQURAN ?

YUNANI BANGKRUT, TERTULIS DALAM ALQURAN ?

Kebesaran Bangsa Yunani, Yahudi, dan Masehi Hanyalah Mitos

 Banyak penulis tentang Barat menyatakan, bahwa kebesaran kebudayaan Barat adalah karena pengaruh Yunani dan Romawi. Dengan demikian, seolah dua bangsa itu mempunyai nilai besar dalam membentuk peradaban dunia Barat saat ini. Betulkah demikian?
Menurut Roger Garaudy, kebesaran bangsa Yunani hanyalah hanyalah cerita sejarah yang dibuat karena ketidakpahaman. Hal yang sama juga tentang keunggulan bangsa Yahudi.
“Mitos keistimewaan Yunani hanya dapat terjadi karena kebodohan yang disengaja atau penolakan terhadap asal-usul dan sejarah kota Athena pada zaman Pericles. Mitos keistimewaan bangsa Yahudi juga disuburkan oleh kebodohan yang disengaja serta penolakan yang sama, ” tegas Garuady. (Roger Garaudy, Promesses de ‘Islam, Paris: 1981).
Dalam Al-Qur’an memang Allah Swt menyebutkan, bahwa bangsa Israel- sebagai asal-usul bangsa Yahudi- telah dilebihkan atas segala umat (QS. 2: 47). Ayat ini tidak menunjukkan bahwa bangsa Yahudi menjadi bangsa yang lebih luhur dibanding bangsa lain selama-lamanya.. Mereka yang dipuji Allah punya keluhuran adalah bangsa Yahudi pada masa Nabi Musa ‘alaihi al-salam (as).
Bangsa Yahudi menjadi unggul ketika mereka taat dan mengikuti ajaran Nabi Musa setelah dikejar dan dintimidasi oleh Fir’aun. Tapi, setelah mereka membangkang dan melakukan penyimpangan (tahrif), mereka dikutuk Allah. “Jadilah kamu kera yang hina, ” demikian firman-Nya pada Al-Baqarah: 65.
Inilah afirmasi Allah yang paling tegas kepada para pengkaji sejarah dan peradaban, bahwa bangsa Yahudi pasca Nabi Musa menjadi banga yang terhina, dicaci, dimusuhi dan diusir karena sikap dan perbuatannya yang menolak kebenaran dan rasis. Bangsa ini pada masa Hitler juga menjadi sasaran empuk.
Mitos yang dibesar-besarkan juga terjadi pada agama Kristen (Masehi), agama yang dianut hampir di semua negara benua Eropa, kendati benua ini tidak pernah melahirkan agama besar. Agama ini bermula di Antokia, Turki (Asia), kemudia menyebar di Isdkandaria, Mesir (Afrika).

Garaudy mengungkapkan, agama Masehi mengambil bahan dan tradisi Yahudi dan Yunani, negara tetangga terdekat Turki- dari hubungannya bangsa Timur. Selain itu, agama ini juga dipengaruhi oleh biksu-biksu Budha yang dikirim oleh Ashoka, seorang Maharaja India dari Dinasti Maurya (261 SM) sebelum lahirnya Nabi Isa as.
”Keturunan para biksu itu terdapat masyarakat Essena, dan mereka itu mempunyai pandangan-pandangan dan perilaku tang sangat mirip dengan panadangan serta perilkau masyarakat Gua Qumran atau masyarakat Injil Thomas yang ditemukan di Mesir, ” papar Garaudy, intelektual Muslim asal Perancis, yang pernah jadi atheis.
Sangat wajar bila kemudian Islam mengkritik peradaban, moral, dan keyakinan Yahudi, Kristen, dan tentunya Barat. Sebab, dalam pandangan Islam, kedua agama yang turut melahirkan peradaban Barat selama ini salah dan telah diselewengkan oleh para penganutnya.
* * * * *
Kendati kritik dan kebenaran Islam disampaikan ribuan tahun yang lalu oleh Nabi Muhmmad dan para sahabatnya, lalu dilanjutkan generasi sesudahnya, tetap saja mereka tidak terima.
Seorang pentolan orientalis William Montogomerry Watt dalam bukunya “Islamic Fundamentalism and Modernity, menyatakan, ayat-ayat Al-Qur’an yang menuduh bangsa Yahudi melakukan perubahan kitab sucinya merupakan tuduhan paling serius. ”Namun tidak ada kejelas dan apakah yang dimaksud perubahan di sini adalah perubahan pada teks atau hanya pada makna, ” papar Watt.
Tapi, lanjut dia, ketidakpastian ini tetap tidak mengurangi kemanjuran dan kebenaran teori Al-Qur’an itu dalam menghadang Yahudi dan Kristen berdebat atau berdialog dengan umat Islam mengenai dasar Bibel.
Sungguh aneh dan tidak ilmiah bila di kemudian hari mereka tetap megaku sebagai agama yang benar. Karena mengetahui agama mereka salah, maka agar mendapat pengakuan kebenaran dari yang lain (Islam) merekapun menyebarkan paham semua agama benar (plularisme agama).
 Sejarah pernah punya cerita Peradaban Persia, Romawi, Yunani dan India dikenal sebagai empat peradaban terbesar beberapa ratus tahun silam. Setiap peradaban tersebut memiliki karakter dan keunggulannya masing-masing. Peradaban Persia dikenal memiliki beragam dinamika dan pertentangan antar agama. Peradaban Romawi sangat dikenal dengan kekuatan armada militer dan visi ambisi kolonialismenya. Akan halnya Yunani, peradaban ini tenggelam dalam lautan mitos-mitos khurafat yang sangat menyuburkan paham keagamaan monotheisme, selain memang peradaban ini sangat menonjol dari ilmu pengetahuan pemikiran dan filsafat. demikian pula dengan India, selain juga keterpurukan dalam beragama suatu hal yang biasa pada peradaban itu. Satu kesamaan yang dapat ditemui dari keempat perdaban besar ini adalah kebobrokan moral, kebejatan sosial, dan kesengsaraan umat seolah menjadi wajah suram dan pemandangan wajar dari keempat peradaban tersebut. Romawi dan Persia merupakan peradaban terkuat pada waktu itu.
Selanjutnya, mari tengok sebuah Jazirah yang letaknya hampir berada di antara keempat peradaban besar di atas, tepatnya jazirah ini diapit oleh 2 karakter peradaban besar, peradaban barat materialisme dan peradaban timur spiritualisme dan mitos-mitos khayalan. Penduduk jazirah ini amat terbelakang, baik dari segi pemikiran, sosial, budaya, moral, maupun intelektual. Mereka bodoh, tak bisa membaca, gemar berperang antar saudara, bahkan membunuh bagi mereka merupakan suatu ritual yang mereka yakini sebagai bentuk penyembahan kepada tuhan-tuhan buatan mereka sendiri. Maka wajarlah jazirah ini sedikit pun tak dilirik oleh peradaban Persia, Romawi, Yunani, maupun India sebagai sesuatu yang mengancam bagi eksistensi masing-masing peradaban mereka.

Namun siapa sangka keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan penduduk jazirah ini menjadi salah satu alasan kuat diturunkannya Rasul terakhir yang dijanjikan dalam kitab-kitab agamat terdahulu. Inilah jazirah arab...tempat kelahiran sekaligus tanah dakwah pertama Rasulullah SAW. Alasannya sederhana saja... hikmah diturunkannya nabi terakhir di jazirah yang sangat terbelakang ini tiada lain adalah ingin menunjukkan bahwa Muhammad dengan segenap tugas kerasulannya hadir bukan karena dibentuk, dibimbing dan dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan yang maju dari segi peradabannya, sehingga tidak ada alasan bagi pihak-pihak yang menentang risalah beliau untuk menyebar fitnah dan tuduhan bahwa ajaran Muhammad merupakan warisan dari kekayaan peradaban tempat kelahirannya, tidak pula mengatakan bahwa risalah Muhammad merupakan buah karya pemikiran intelektual para pendahulu di daerah asal kelahirannya...nyatanya tempat kelahiran Muhammad merupakan tempat yang jauh dari keluhuran budaya dan peradaban...jauh terpuruk dibanding keempat peradaban besar dunia yang dipaparkan di awal...sehingga suatu hal yang mustahil jika risalah tersebut diciptakan dari iklim kebudayaan dan sejarah intelektual jazirah arab yang demikian terbelakang. Fakta ini menjadi penguat bahwa Risalah yang dibawa Muhammad benar-benar datang dari langit berupa kalam-kalam Ilahiyah, Ma'alim Fiththoriq bagi umat manusia sepanjang zaman.

Dan perjuangan dakwah Rasulullah bersama para sahabatnya, kesabaran dalam menghadapi ujian, pengusiran, pembunuhan, dan pemboikotan, menghadapi ratusan ratusan peperangan, berbuah manis... perlahan namun pasti mayoritas masyarakat mekah berbaiat kepada beliau, ditandai dengan peristiwa Fathu Makkah. Madinah menjadi sebuah negeri madani, para kabilah hidup rukun dalam kepemimpinan Muhammad walau mereka berbeda suku dan keyakinan. Madinah menjadi pusat kekuatan besar umat Islam. Madinah dijadikan sebagai pusat pembinaan kader-kader dakwah, penguatan aqidah, penerapan sistem pemerintahan yang kuat, pembangunan ekonomi umat hingga penyiapan armada militer demi melakukan ekspansi yang lebih luas ke berbagai wilayah dengan menawarkan suatu paket perjanjian kepada para penguasa wilayah: Masuklah ke dalam Islam, jika tidak mau, maka bayarlah jizyah demi keamanan dan pelayanan, dan jika tidak mau juga, bersiaplah berperang hingga mereka menang atau kalah dan memilih salah satu dari dua tawaran tersebut. Sebuah kesepakatan yang fair dan bijaksana. Tak ada paksaan, tak ada pengusiran dan tak ada pembantaian.

Islam terus mengekspansi dakwahnya ke berbagai penjuru Jazirah arab hingga secara mengejutkan peradaban Persia pun jatuh dalam kekuasaan Islam. Persia yang dahulu sama sekali tidak memandang kekuatan Islam di jazirah arab...justru mereka takluk di tangan Islam. Inilah cita-cita penaklukan pertama dari dua cita-cita penaklukan yang dinyatakan Rasulullah saat memecah batu ketika perang Khandak sebagaimana dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah radhiyallahu ‘anhu dari salah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:

"Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk. Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat Yang mengutus anda membawa kebenaran. Betul, wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”

Demikianlah hadits di atas layaknya membenarkan janji Allah SWT dalam firmannya di surat Ar-Ruum ayat 2-5 berikut:

"Telah dikalahkan bangsa Rumawi[1], di negeri yang terdekat dg negeri syiria dan palestina[2] dan mereka ( rumawi ) sesudah dikalahkan itu akan menang[3] dalam beberapa tahun lagi[4]. menurut ilmu Allah-lah tata aturan hidup berlaku sebelum dan sesudah (mereka  saling menghancurkan). yaitulah momentum menjadi giliran peredaran sejarah tegaknya Islam  maka bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan ilmu Allah. Dia dg pembuktian Alquranu wa Sunnaturrasul menolong siapa yang berkehendak. yaitu dia dg Alquranu wa Sunnaturrasulu Maha agung lagi Pmaha pemasti kehidupan kasih sayang.

Sepeninggal Rasulullah SAW, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Hingga pada suatu masa di mana tiba saatnya merealisasikan cita-cita kedua Rasulullah di perang Khandak: Menaklukan Romawi, tepatnya Romawi Timur, yakni Konstantinopel, peradaban dengan angkatan militer terkuat di dunia! Dan tugas tersebut berhasil dituntaskan oleh pasukan perang yang dipimpin seorang pemuda 23 tahun yang paling hebat amalan ibadah nafilah yaumiyahnya, Muhammad Al-Fatih Murad, Sang Pembebas. Begitu hebatnya Muhammad Al-Fatih sampai-sampai Rasulullah ketika masa hidupnya menggambarkan sosok pemimpin pasukan perang yang kelak akan menaklukan Romawi dengan haditsnya:

"Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan." (H.R. Ahmad bin Hambal).

Kekuasaan Islam terus meluas terutama di zaman kekhilafahan. Penguasaan wilayahnya hingga lebih dari 1/3 belahan dunia menjadikan Islam tidak lagi sekedar sekedar negeri, tapi menjadi sebuah peradaban baru. Hingga akhirnya peradaban-peradaban besar dunia runtuh, dan Islam tampil menjadi peradaban terkuat hingga mencapai puncak keemasannya pada abad ke-8 hingga 13. Islam menjadi satu-satunya peradaban yang mampu bertahan paling lama hingga 500 tahun lebih. Pada puncak keemasan ini lahirlah ilmuwan-ilmuwan terbaik sepanjang sejarah, yang banyak menghasilkan penemuan, teori dan ilmu pengetahuan, pada masa ini pula ulama-ulama hebat yang banyak menuliskan berbagai kitab fiqih, pemikiran dan filsafat Islam.

Pada akhirnya peradaban Islam perlahan dan pasti mengalami masa-masa penurunan. Hingga pada tahun 1924 peradaban Islam pun runtuh ditandai dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniyah. Faktor penyebab runtuhnya kekhilafahan cukup kompleks dan rumit. Jika ditarik benang merahnya maka akan ditemukan hubungannya dengan sejarah konflik pemilihan khalifah pasca berakhirnya kepemimpinan Khula'aurrasyidin yang terakhir yakni 'Ali bin Abi Thalib. Sedemikian rumitnya hingga perlu bagian tersendiri dalam memaparkannya (Insya Allah akan disampaikan pada judul selanjutnya). Yang jelas runtuhnya khilafah Utsmaniyah tidak terjadi begitu saja secara tiba-tiba, tapi merupakan proses yang lama dan itu disebabkan oleh semakin lemahnya kekuatan internal umat Islam khususnya dari sisi pemerintahan ditambah dengan ekspansi musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kekhilafahan hingga melakukan penetrasi ke jantung pemerintahan dan berhasil mengangkat seorang yahudi menjadi khalifah sekaligus meruntuhkan sistem kekhilafahannya dari dalam.

Semenjak itu, upaya terus dilakukan oleh para ulama di dunia untuk kembali menegakkan khilafah, hingga muncul berbagai gerakan Islam sebagai sarana untuk mewujudkannya, namun hingga kini usaha tersebut belum berhasil karena sedemikian kompleksnya permasalahan umat Islam saat ini baik dari sudut internal maupun eksternal yang sangat memerlukan energi ekstra besar untuk menyelesaikannya...dan energi umat Islam saat ini belumlah cukup untuk menyelesaikannya. Demikianlah Allah mempergilirkan kekuasaannya bagi siapa yang ia kehendaki.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nuur: 55)

"Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu." (QS. Huud: 57)


0 komentar:

Posting Komentar